Lagi Cari Arsitek Untuk Bangun Rumah? Ketahui Dulu PERDA Seputar Membangun Rumah

Membangun rumah merupakan salah satu impian bagi setiap keluarga. Namun seringkali Anda bingung ketika menyesuaikan keinginan, dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Timbul pertanyaan-pertanyaan di benak Anda, bagaimana solusinya? Nah, disinilah peran arsitek diperlukan. Seorang arsitek harus bisa menjelaskan kepada clientnya akan hal-hal yang berkenaan dengan peraturan yang berlaku seputar membangun rumah, sehingga rumah yang didesain si arsitek tidak melanggar hukum dan peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah.

Salah satu konsultan arsitek yang penulis ketahui yang sering memberikan pengarahan seputar peraturan seputar membangun rumah adalah Arsitek Online, baik di media sosial maupun dalam setiap iven-iven properti yang diselenggarakan. Anda bisa berkunjung di portal resminya disini arsitek, atau sekedar tanya-tanya tentang peraturan yang ada.

Berikut beberapa tanya-jawab antara arsitek dan clientnya seputar peraturan pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan rumah.

Tanya:
Kira-kira apkah ada ketentuan utuk pembangunan pagar di perumahan umum?

Jawab:

Secara logika, menurut arsitek yang terpenting pagar menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar, terutama bila Anda tinggal di pemukimam umum. Sesuai Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 1991 di Pasal 95, tinggi pagar yang membatasi area teritori pekarangan samping dan belakang di perumahan biasanya yang merupakan bangunan renggang, berukuruan maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Namun bila Anda ingin membuat pagar tembok bagi rumah tinggal bertingkat Anda, arsitek menyarankan agar Anda bisa membangun tinggi tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah.

Sedangkan bila Anda ingin membuat pagar yang terdapat di GSJ (Garis Sempadan Jalan) atau antar GSJ dengan GSB (Garis Sempadan Bangunan), menurut arsitek ukuran tinggi yang diperbolehkan adalah maksimal 1,5 meter di atas permukaan tanah. Pada tinggi pagar tersebut pun bagian yang tertutup masif dan tidak tembus pandang, hanya boleh mencapai tinggi 1 m saja. Selebihnya adalah pagar tembus pandang.

Tanya:

Rencananya, kami ingin merenovasi fasad rumah kami dengan desain yang lebih modern dan mencolok. Apakah ada batasan ketentuan desain fasad?

Jawab:

Tertulis di dalam PERDA BG DKI Jakarta No. 7 Tahun 2010, tepatnya di Pasal 18, bahwa tata bangunan dalam sebuah kawasan, harus dirancang dengan memperhatikan keserasian Iingkungan. Selain itu, di Pasal 26, tercatat pula, bahwa persyaratan arsitektur bangunan gedung, adalah keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan dengan lingkungannya.

Oleh karena itu, menurut arsitek meskipun kawasan perumahan Anda bukan permukiman klaster tetapi ada baiknya Anda menyesuaikan bentuk fasad rumah Anda dengan keadaan Iingkungan sekitar. Misalnya, dari soal warna, jangan sampai Anda menggunakan warna terlalu mencoiok, dengan bentuk rumit. Lebih baik, Anda memaksimalkan perihal permainan material, yang membuat fasad Anda terlihat fresh dan bersinar.

Tanya:

Perizinan apalagi yang harus diurus saat rumah telah terbangun?

Ketika bangunan rumah selesai dibangun, saran arsitek sebaiknya Anda perlu mengurus Sertifikat Laik Fungsi (SLF). SLF merupakan sertifikat yang diberikan Pemerintah Daerah untuk menentukan apakah sebuah bangunan telah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi.

Untuk wilayah DKI Jakarta, pada pasal 148 PERDA BG No.7 DKI Jakarta Tahun 2010 dijelaskan mengenai Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung. Pada pasal tersebut tertulis bahwa SLF harus dimiliki setiap bangunan sebelum bangunan tersebut dapat digunakan. SLF memiliki masa berlaku 5 tahun untuk bangunan umum dan 10 tahun untuk rumah tinggal, yang dapat diurus ke Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan setempat.

Tanya:

Kami ingin membuat toko di dalam rumah kami, tepatnya di area terdepan rumah. Apakah terdapat ketentuan berkenaan dengan hal itu?

Jawab:

Seperti yang tertera di PERDA BG No.7 DKI Jakarta Tahun 2010, tepatnya di Pasal 6, Ayat 3, setiap bangunan boleh memiliki lebih dari satu fungsi, apakah itu fungsi hunian, keagamaan, usaha, sosial, dan budaya, serta fungsi khusus.

Untuk melakukan perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan rumah, seperti pada Pasal 11, Anda bisa mengusulkannya dalam bentuk rencana teknis bangunan rumah. Sesuai dengan peruntukan lokasi yang sebelumnya telah diatur dalam RTRW, RDTR, peraturan zonasi, atau panduan rancang kota. Untuk itu, saran arsitek dalam pertanyaan ini adalah Anda bisa mengajukannya ke pemerintah setempat.

Meskipun begitu, perubahan rumah menjadi ruang usaha tersebut harus diikuti oleh beberapa ketentuan, antara iain, Anda harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung, seperti yang telah tertera dalam IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Masing-masing wilayah memiliki peraturan yang berbeda mengenai tinggi bangunan, GSB, GSJ, KLB, mezanin, dan sebagainya. Daerah Jakarta Selatan misalnya, yang arsitek ketahui mereka sudah memiliki peraturan mengenai mezanin, sementara daerah Jakarta Timur belum memilikinya. Karena itu, sebelum membangun, cek terlebih dahulu peraturan ini ke Seksi Dinas Tata Ruang Kecamatan atau Suku Dinas Tata Ruang setempat.

Tanya:

Carport di rumah kami terbuka dan tanpa pagar. Kami ingin menambahkan pergola dan pagar. Bagaimana peraturan mengenai carport?

Jawab:

Sebagian besar orang menganggap pagar sebagai batas terluar rumah. Pembuatan pagar dalam area Garis Sempadan Bangunan (GSB) menurut arsitek masih diperbolehkan, karena bentuknya bukan merupakan bangunan. Namun tentu saja pagar yang akan dibuat jangan sampai menjorok keluar dan mengganggu akses jalan umum di depan rumah. Lain halnya dengan atap pergola. Atap pergola tidak diperbolehkan menjorok hingga melewati pagar.

Tanya:

Bangunan rumah yang kami tempati rasanya terlalu sempit, sedangkan lahan masih tersedia. Berapa besar batasan memperluas rumah yang memakan lahan kosong?

Jawab:

Setiap bangunan, termasuk bangunan rumah tinggal, selama yang arsitek online ketahui wajib dibangun berdasarkan KDB dan KLB. KDB merupakan Koefisien Dasar Bangunan, sementara KLB merupakan Koefisien Lantai Bangunan. Keduanya telah diatur oleh pemerintah di masing-masing daerah, masing-masing kawasan pun memiliki besar KDB dan KLB yang berbeda.

KDB menunjukkan persentase perbandingan Iuas bangunan dengan Iuas area terbuka, Untuk di wilayah resapan air, KDB yang ditentukan cenderung kecil, artinya harus lebih banyak lahan terbuka daripada bangunan. Sayangnya masih ada saja yang melanggar ketentuan mengenai KDB dan KLB, karena faktor ketidaktahuan maupun tidak peduli.

Beberapa elemen rumah yang tidak termasuk ke dalam perhitungan KLB antara Iain ialah balkon di lantai dua, dengan dinding yang tidak lebih dari  1,20 m. Jika dindingnya melebihi, akan dihitung sepenuhnya sebagai Iuas dasar bangunan.

Tanya:

Sesuai kebutuhan ruang, kami sepertinya ingin meningkat rumah kami yang sudah berjumlah 2 lantai, menjadi 3 lantai. Apakah boleh?

Mengacu pada Peraturan Daerah Bangunan Gedung (PERDA BG) DKI Jakarta No.7 Tahun 2010 Pasal 21, tertulis bahwa salah satu persyaratan intensitas bangunan gedung, adalah ketinggian. Menurut arsitek, peraturan ini dibuat agar bangunan Anda tidak menghalangi cahaya dan sirkulasi udara tetangga Anda.

Tertulis pula pada peraturan sebeiumnya, yaitu pada Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 1991, bahwa tinggi tampak rumah tinggal tidak boleh melebihi ukuran jarak antara kaki bangunan yang akan didirikan, hingga GSB yang berseberangan. Peraturan tinggi ini berbeda di setiap wilayah. Untuk wilayah Pondok Kelapa, Jakarta Timur misalnya, tinggi bangunan maksimal (dari permukaan tanah hingga ujung nok) maksimal 17m.

Sebagai solusi, saran arsitek sebaiknya Anda bisa membuat mezanin atau Iantai setengah guna menambah ruang, yang berada di pertengahan Iantai 1 dan Iantai 2, agar tetap taat ketentuan tinggi bangunan. Namun perlu dicatat, mezanin sebaiknya memliiki Iuas kurang dari 50% dari Iuas Iantai, karena mezanin dengan Iuas Iebih dari 50% Iuas Iantai akan dihitung sebagai Iantai penuh.

Demikianlah tanya-jawab tentang peraturan pemerintah seputar permasalahan membangun rumah. Bila Anda masih ada yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, bisa langsung berkonsultasi dengan arsitek sebagai profesional yang membidangi masalah ini. Atau bisa juga langsung ke konsultan jasa arsitek yang pernah penulis pakai jasa arsiteknya yang menurut penulis cukup profesional dan ramah yakni Arsitek Online. Disana Anda bisa menanyakan segala sesuatunya seputar rumah dan desain rumah secara gratis, tanpa dipungut biaya walaupun sekedar konsultasi biasa.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


55 − 52 =